Baiat Pada Rasulullah

Telah mengabarkan kepada kami Amr bin Manshur dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mushir dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdul Aziz dari Rabi’ah bin Yazid dari Abu Idris Al Khaulani dari Abu Muslim Al Khaulani dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Al Habib Al Amin Auf bin Malik Al Asyja`i dia berkata;
“Kami dahulu di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengulangi sampai tiga kali, kemudian kami menyodorkan tangan-tangan kami dan selanjutnya kami berbaiat kepadanya. Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ” wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kami telah berbaiat kepadamu, lantas untuk apa kami berbaiat kepadamu?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: Untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, shalat lima waktu – dan seraya melirihkan suara beliau bersabda – serta untuk tidak meminta-minta kepada manusia sesuatupun.”
Hadits Riwayat Nasa’i

Bagian Warisan Wanita Adalah Sepertiga

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu ‘Umar; telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Az Zuhri dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqqash dari bapaknya dia berkata; Pada tahun Fathu Makkah, aku tertimpa sakit dan aku merasa akan mengalami kematian.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjengukku, maka aku pun berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta yang banyak, sedangkan tidak ada orang yang akan mewarisiku kecuali anak perempuanku seorang diri.
Apakah aku harus berwasiat dengan hartaku seluruhnya?” beliau menjawab: “Tidak.” Aku berkata, “Atau duapertiga darinya?” Beliau menjawab: “Tidak.” Aku berkata lagi, “Atau setengahnya?” beliau menjawab: “Tidak.” Aku berkata lagi, “Kalau begitu, sepertiga darinya?” Akhirnya beliau bersabda: “Sepertiga. Namun, sepertiga adalah jumlah yang banyak.
Sesungguhnya, bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta kepada manusia. Dan tidaklah kamu menginfakkan sesuatu pun, kecuali kamu akan diberi ganjaran pahala, hingga sesuap makanan yang kamu suapkan pada mulut isterimu.”
Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah aku telah ditinggalkan dari hijrahku?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya, kamu tidak akan ditinggalkan setelahku, sehingga kamu mengerjakan amalan yang dengannya kamu mengharap wajah Allah, sehingga membuat derajatmu (di sisi-Nya) semakin tinggi. Dan semoga sepeninggalmu setelahku nanti, orang-orang dapat mengambil manfaat darimu, dan yang lain mendapat kecelakaan. Ya Allah, terimalah hijrah para sahabatku, dan janganlah Engkau tolak akan kesudahan mereka.” Akan tetapi Al Ba`is Sa’d bin Khaulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewarisinya, agar ia dapat meninggal di Makkah. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ini adalah hadits Hasan Shahih. Dan hadits ini telah diriwayatkan pula oleh lebih dari satu orang perawi dari Sa’d bin Abu Waqhas.
Menurut Ahli imu, hadits ini diamalkan, yakni, seorang laki-laki tidak boleh mewasiatkan lebih dari sepertiga hartanya. Sedangkan sebagian ulama, adalah suatu hal yang Mustahab (sunnah) bila wasiat kurang dari sepertiga, berdasarkan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan sepertiga itu, merupakan jumlah yang banyak.”
(HR. Tirmidzi)

Keistimewaan Al-Quran

قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا
Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.”
(QS. Al-Isra’: Ayat 88)

Menahan Tangannya Saat Sholat

Telah bercerita kepada kami Husain telah bercerita kepada kami Abu Uwais telah bercerita kepada kami Syurahbil bin Sa’d Al Anshari budak Bani Khothsmah dari Jabir bin ‘Abdullah dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seseorang menahan tangannya dari mengusap kerikil saat shalat itu lebih baik daripada memperoleh seratus unta semuanya berwarna hitam di tengah matanya. Jika ada setan yang mengganggu kalian maka usaplah satu kali saja.” Telah bercerita kepada kami Husain telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abu Dzi’b dari Syurahbil dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seseorang menahan tangannya dari mengusap kerikil itu” lalu menyebutkan maknanya.
– HR. Ahmad

Antara Telunjuk Dan Ekor Kuda Yang Kepanasan

Telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Ubaidullah bin Qibthiyyah dari Jabir bin Samurah berkata, “Ketika kami shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, salah seorang di antara kami menunjukan tangannya kepada saudaranya di kanan dan kirinya, maka seusai shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Kenapa salah seorang dari kalian melakukan hal ini seakan ekor kuda yang kepanasan, cukuplah seorang dari kalian meletakkan tangan kanannya di atas pahanya dan menunjuk dengan jari telunjuknya kemudian mengucap salam pada saudaranya ke kanan dan kirinya.”
– HR. Ahmad

Larangan Puasa Pada Hari Tasyrik

Telah menceritakan kepada kami Rauh ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Malik dari Yazid bin Abdullah bin Al Hadi dari Abu Murrah budaknya Ummu Hani`, bahwa ia bersama Abdullah bin Amru pernah menemui bapaknya, Amru bin Ash. Amru bin Ash kemudian menyuguhkan makanan kepada mereka berdua seraya mengatakan, “Makanlah.” Abu Murrah berkata, “Saya sedang berpuasa.” Amru berkata lagi, “Makanlah, karena ini adalah hari-hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berbuka, dan melarang perpuasa di dalamnya.” Malik berkata, “Hari-hari itu adalah hari tasyriq.”
– HR. Ahmad

Kaum Yang Hatinya Lemah

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Akan datang kepada kalian kaum yang hatinya lebih lemah daripada kalian”. Maka datanglah orang -orang ‘Asyari yang diantaranya Abu Musa. Tatkala mereka sampai di Madinah mereka melantunkan nasyid, “Besok kita akan bertemu orang yang kita cintai, Muhammad dan kelompoknya”.
– HR. Ahmad

Manusia Ibarat Barang Tambang

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Manusia itu ibarat barang tambang, kalian dapati orang yang terbaik dari mereka pada masa jahiliyyah adalah orang yang terbaik pula di dalam Islam, yaitu jika mereka memahami Islam.”
HR. Ahmad


Waspada Dengan Ulama Suu

ULAMA MENYESATKAN ITU TERUS ADA

.
Umat Islam tak akan pernah aman sampai mereka yg memimpin peradaban. Umat Islam senantiasa hendak dipecah belah, salah satunya memasukan Ulama, Da’i, Ustadz dsb yg berfungsi untuk menyesatkan, memecah belah Umat Islam dan menjual Agama Allah.
.
Snouck Hurgronje adalah Agen Belanda yg sangat cerdas, masuk Islam, fasih Berbahasa Arab, hafal Al-Qur’an, sudah Haji & menikah dengan muslimah. Jangan coba-coba berdebat dengannya. Ilmu keagamannya jauh lebih hebat ketimbang kebanyakan Da’i pada saat itu.
.
Namun tetaplah kembali ke hati, bahwa tujuannya adalah untuk memecah belah Umat Islam, memurtadkan, dan meredam Umat Islam untuk tidak menerapkan Syariat Islam, menyuruh Umat Islam agar tak mencampuri politik & agama.
Alhasil banyak Ulama Tertipudaya. Akhirnya Aceh mampu dikuasai & tercerai berailah rakyat Indonesia akibat seruan fatwa sesat dari agen ini.
Maka Ulama palsu seperti ini akan terus ada. Yang tujuannya memecah belah Umat Islam dan menghancurkannya dari dalam.
.
Oleh sebab itu Letak Iman itu bukan berada pada pengakuan “Saya Islam, saya Sholat, Saya Ngaji, Saya Punya Pesantren, Saya Santri, Saya Pengurus Ormas Islam”. Mengaku begitu tapi pandangannya, cara hidupnya, tingkah lakunya jauh dari Islam, menyerempet kepada Liberal & Komunis, menolak Syariat Islam, bahkan mendukung penista Islam.
Kalau hanya seperti itu Snouck Hurgronje adalah sangat beriman sebab telah menguasai dan sangat paham tentang Agama Islam.
.
Namun letak Islam itu juga pada Sikapnya, cara pandangnya, langkahnya,  keberpihakannya, niatnya yg tulus untuk memperjuangkan Agama.
Tak pernah dalam pemikirannya mengambil pemikiran lain selain Hukum Allah, yg ia anggap sebagai hukum erbaik… Inilah Letak Islam itu sesungguhnya.
.
Sebab tak mungkin seseorang yg mengaku ISLAM tapi membela Penista Agama Islam. Maka jelas banyak Ulama, Kiyai, Da’i dan Umat Islam menyebut pembela penista Agama sebagai kaum munafik karena telah memenuhi kriteria kemunafikan yg diungkap Al-Qur’an dan As Sunnah.
.
.

Bermain Bersama Istri Itu Sunnah

Bermain Bersama Istri Itu Sunnah
Membangun kemesraan dalam rumah tangga sangat dianjurkan dalam islam. Salah satunya adalah ‘bermain’ dengan istri. Hampir semua permainan, tidak mengandung dzikrullah, dan tidak dianjurkan dalam dalam islam. Kecuali beberapa permainan, salah satunya bermain dengan istri.
.
Aisyah menceritakan,
.
Aku pernah ikut safar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu aku masih muda, badannya belum gemuk dan bellum berlemak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh rombongan safar, “Silahkan kalian jalan duluan.”
.
Merekapun jalan duluan. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku,
.
“Mari kita lomba lari. “
.
Akupun lomba lari dengan beliau dan aku bisa mengalahkan beliau.
.
Hingga setelah aku mulai gemuk, berlemak dan sudah lupa dengan perlombaan yang dulu, aku pergi bersama beliau untuk melakukan safar. Beliau meminta kepada rombongan, “Silahkan kalian jalan duluan.”
.
Merekapun jalan duluan.
.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajakku,
.
“Mari kita lomba lari”
.
Akupun lomba lari dengan beliau dan beliau bisa mengalahkanku.
.
Beliau tertawa dan mengatakan, “Ini pembalasan yang kemarin.” (HR. Ahmad 26277 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
.
Meskipun hadis ini bercerita tentang lomba lari, tapi itu bukan pembatasan. Hanya saja, yang pernah dipraktekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah lari, karena itu yang paling memungkinkan.
.
Jika ini tidak memungkinkan dalam keluarga anda, bisa diganti dengan jenis permainan yang lain, misalnya petak umpet atau lompat tali atau gobak sodor, atau permainan sejenisnya. Yang jelas bukan gulat.
.
Semoga keluarga kita semua bahagia…
.
Allahu a’lam.
.